Apa itu Kanker Esofagus?

Yang Jun

Jabatan:
Direktur Pusat Diagnosis dan Perawatan Presisi Onkologi Medis Foshan Chancheng
Gelar:
Kepala Dokter

Konsultasi Gratis

Apa itu Kanker Esofagus?

Kanker esofagus merupakan salah satu tumor ganasan pada saluran pencerna yang umum terjadi. merupakan Tumor ganas terumum ke-7 di dunia, dengan sekitar 320.000 kasus baru setiap tahunnya di seluruh dunia. Lebih dari setengah kasus tersebut terjadi di Tiongkok. Tingkat kematian akibat tumor ganas ini menempati peringkat ke-4. Insiden dan mortalitas kanker esofagus menunjukkan pengelompokan geografis dan hereditas keluarga yang signifikan, dengan rasio kejadian pada pria dan wanita sekitar 2:1.


3c585ddb-f13b-4ca4-b391-ab48f908a5ff.png.png


Gambaran Kanker Esofagus di Indonesia

Kanker esofagus merupakan kanker terbanyak kelima pada pria di Indonesia, dengan sekitar 4.200 kasus baru pada tahun 2022, sekitar 5,1% dari total kasus kanker pada pria (Sumber data: GLOBOCAN 2022). Karena gejala awal (seperti kesulitan menelan dan nyeri dada) seringkali diabaikan, lebih dari 60% pasien terdiagnosis pada stadium lanjut (stadium III-IV) saat ditemukan, dengan angka harapan hidup 5 tahun hanya 15%-20%, jauh lebih rendah dibandingkan kanker lambung (35%) dan tumor saluran cerna lainnya.

 

Di Indonesia, faktor risiko utama kanker esofagus meliputi: konsumsi makanan asin yang diawetkan (seperti "ikan asin" di Sumatera Utara) dan kebiasaan mengunyah sirih (umum di Kalimantan dan Papua). Keduanya terkait erat dengan karsinoma sel skuamosa esofagus (sekitar 70% kasus). Selain itu, infeksi HPV (sekitar 10% kasus) dan ketergantungan kalangan masyarakat berpenghasilan rendah pada makanan asin murah juga merupakan faktor penyebab penting.

 

2ccb1d42-75be-4502-8886-ba50deece3c6.png.jpg


Tantangan Diagnostik yang Berat: Layanan kesehatan primer sering salah mendiagnosis gejala awal sebagai penyakit refluks gastroesofageal (GERD), dan hanya 25% rumah sakit tingkat sekunder ke atas yang dilengkapi endoskopi definisi tinggi. Di daerah pedesaan, masih mengandalkan pemeriksaan barium swallow yang sensitivitasnya kurang dari 50%. Distribusi jenis patologi menunjukkan kanker karsinoma sel skuamosa mencapai 70% (terutama terkait dengan kebiasaan mengunyah sirih dan merokok), dan kanker adenokarsinoma mencapai 25% (terkait dengan obesitas dan refluks gastroesofageal).

 

Kendala utama saat ini meliputi: kurangnya program skrining nasional menyebabkan rendahnya tingkat deteksi dini; 70% sumber daya perawatan spesialis terpusat di Pulau Jawa; dan biaya pengobatan yang tinggi (bagian biaya yang ditanggung sendiri oleh pasien untuk operasi mencapai lebih dari 50%).

Ke depan perlu difokuskan pada: skrining endoskopi berbiaya rendah untuk kelompok berisiko tinggi (seperti pengunyah sirih), pembangunan pusat radioterapi regional, dan perluasan cakupan asuransi kesehatan untuk obat-obatan antikanker.

 

(Sumber data: WHO GLOBOCAN 2022, Laporan Pusat Kanker Nasional Indonesia 2023, 《Jurnal Onkologi Asia Tenggara》, edisi khusus kanker esofagus 2024)

 

Apa saja gejala kanker esofagus?

1.Gejala Awal: Gejalanya seringkali individual dan bervariasi antar individu, berupa ketidak nyamanan saat makan yang muncul dan hilang, seperti sesekali terasa terganjal saat menelan, rasa penuh dan tidak nyaman di belakang tulang dada.

2.Gejala Menengah: Kesulitan menelan, cegukan, bahkan muntah berupa lendir berbusa. Dapat disertai rasa berat di dada dan punggung, hanya mampu mengonsumsi makanan lunak seperti bubur dan mie, tidak dapat menelan nasi dan daging.

 

3.Gejala Lanjut: Nyeri dada dan punggung yang signifikan, kesulitan menelan bahkan makanan cair, sering muntah makanan atau lendir, dengan atau tanpa pembengkakan kelenjar getah bening di atas tulang selangka. Jika terjadi penyebaran ke saraf laring atau penekanan saraf oleh kelenjar getah bening yang membengkak, dapat muncul gejala suara serak dan batuk saat minum.

 

Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251